Rekonfirmasi
Saya udah tanya penumpangnya "Pak yudha ya?", trus dia bilang iya, ya saya kasih dia helm trus berangkat.
Sepotong obrolan antara driver ojek online dengan penumpangnya itu adalah kisah nyata yang saya alami.
Jadi ceritanya begini, kalo saya mau ngantor naik transportasi umum maka saya akan naik jaklingko jurusan Meruya - Blok M dan turun di integrated point CSW, lalu disambung dg ojek online.
Order dieksekusi setelah titik tujuan dan titik jemput dipilih. Di aplikasi terlihat posisi driver dan perkiraan dia sampai ke titik jemput.
Kebetulan ga jauh dari titik tunggu ada seorang anak muda berpakaian santai dengan ransel di punggungnya yang kayaknya juga lagi nunggu jemputan.
Sambil menunggu driver, jari jemari ini buka-buka WA, dan sempet melayani pertanyaan WP terkait pemadanan NIK NPWP ILAP. Sesekali melirik sekitar, dan terlihat cowok itu disambangi motor jemputannya dan berangkat.
Saya lalu liat aplikasi, saya terkejut karena aplikasi memperlihatkan driver sudah menjemput saya dan meluncur sesuai track pesanan. Padahal damn it, i'm still at my picking point standing with my handphone.
"Ciloko 13 batin saya, jangan² cowok itu salah ambil driver, atau driver itu salah ambil penumpang."
Dalam kebingungan datang seorang driver ojek online yang clingak-clinguk cari penumpangnya. "Jangan² driver itu lagi cari penumpang yang ngambil orderan gue tuh", mbatin.
Saya mau pesan yang baru tapi aplikasi ga memungkinkan dua order. Saya langsung buka fitur chat dan bilang ke driver "Mas haryanto salah ambil penumpang ya. Saya masih di sekretariat ASEAN nih, tapi kok gambar di aplikasi nya udah bergerak ke kantor saya." Saya bertubi-tubi kirim chat ke driver.
Karena ga bisa order yg baru hingga "penumpang" sampai tujuan, saya buka WA lagi. Tetiba beberapa menit kemudian ada yang manggil nama saya "Pak yudha, pak yudha!" Saya mendekati arah panggilan trus dia tanya lagi "Pak yudha ya?" dan saya mengiyakan.
Driver minta maaf atas kejadian salah ambil penumpang "Abis dia ngakunya pak yudha sih, jadi saya bawa dia. Untungnya di lampu merah saya liat hape trus saya baca postingan bapak. Trus saya sadar salah penumpang dan dia saya turunin."
Saya iseng tanya driver "Memangnya dia mau kemana?" Trus dia bilang "Ngga tau tuh mahasiswa mau kemana."
Kekonyolan yang tidak terlalu nyebelin buat saya, karena ada tawa tertahan di balik itu. Juga karena saya perkirakan masih dalam range aman untuk bisa presensi pagi di kantor, biarpun harus terlunta lebih lama di hiruk pikuknya kawasan CSW.
Saya jadi teringat dengan suatu kisah seorang penumpang salah naik pesawat, dan dia keukeuh dengan kursi yang dia duduki dan selanjutnya sadar kalo dia salah flight.
Saya juga teringat cerita mahasiswi suatu kampus di malang, yang ketika diperiksa tiketnya oleh petugas ternyata dia salah naik kereta, karena kereta kami jurusan jakarta sementara dia mau balik ke malang.
Rekonfirmasi ternyata penting sekali. Dan saya mengalami nya sendiri ketika driver ojek motor/mobil online menyebut nama saya sebelum naik; ketika pramugari pesawat superjet meyakinkan penumpang di depan saya dan kepada saya sendiri bahwa pesawat ini tujuan kota X; ketika petugas lab bertanya nama dan tanggal lahir saya sebelum pengambilan sample darah.
Kayaknya waktu menikah 26 tahun lalu pun seinget saya si penghulu mengkonfirmasi identitas kami sebelum akad nikah berlangsung. Artinya, saya ga salah ambil perempuan dong, he he he...
Dalam dunia kerja, sebagai fungsional penyuluh pajak, rekonfirmasi atas pertanyaan wajib pajak penting dilakukan agar jawaban yang kita berikan tidak salah.
Comments
Post a Comment