Matematika berjalan
“Waaah udah berapa ribu kendaraan kita lewatin nih?” istri saya berucap yang ketiga kalinya dalam jeda sepuluh menitan, sampe gatel telinga ini.
Kamis kemarin kami sekeluarga beperjalanan dari Jakarta ke Bandung. Perjalanan di ruas tol janger lancar, begitu juga di ruas tol dalkot. Awal perjalanan di ruas tol japek tanpa hambatan hingga KM 35 karena di kilometer berikutnya roda hanya berputar di kecepatan 5-10 km/jam.
Tapi rejeki ga kemana, kami dikasih peluang oleh petugas di KM 38 untuk ambil lajur contraflow. Nah di situlah istri saya mengekspresikan kegembiraannya karena mobil kami bisa mengaspal dengan cepat di lajur contraflow melewati barisan mobil sedan, minibis, truk kontainer, kendaraan niaga, bis double decker di lajur kiri yang hampir tidak bergerak.
Bertanya saya kepada si bungsu “Dek, satu kilometer itu kan 1000 meter ya. Nah kalo panjang rata-rata sebuah mobil dua meter, kira-kira ada berapa mobil dalam satu kilometer?” Dia menghitung cepat “500 yah! Eh tapi yah antara mobil itu kan ada jaraknya, jadi kalo jarak antaranya dua meter berarti ada 250 mobil dalam satu kilometer.”
Saya tersenyum dengan ketelitiannya. “Kita udah di KM 60 nih dek. Nah kalo di lajur kiri itu ada tiga lajur, jadi kita udah ngelewatin berapa mobil ya?” tanya saya kemudian sambil mengurangi kecepatan karena sudah saatnya kami masuk ke lajur normal. “Wuih 15 ribu an kayaknya yah!”
Jawabannya tidak salah dengan sejumlah asumsi yang dijadikan pegangan. Saya juga dapat angka yang lebih kurang segitu. Yang pasti kami lebih beruntung dari belasan ribu kendaraan yang lain.
Saya jadi teringat dua puluh tahun lalu ketika saya pulang kantor dari Jakarta ke Cibinong dengan menggunakan bis umum, dimana saya tidak pernah kebagian tempat duduk. Dalam beberapa kesempatan saya berdiri di belakang supir, dan disitulah saya suka iseng mengutak-atik angka.
Yang saya lakukan adalah memandang keluar jendela bis, melihat papan penunjuk kilometer di jalur hijau yang berderet di sepanjang tol jagorawi. Jarak antara dua papan adalah 200 meter. Saya menghitung waktu yang dibutuhkan bis melewati dua papan, jadi saya menghitung dalam hati ketika bis melewati satu papan dan berhenti menghitung di papan berikutnya. Saya menghitung dalam hati satu dua tiga sesuai ritme detak jarum detik.
Apabila antara dua papan kilometer itu ditempuh bis dalam 9 hitungan detik, berarti kecepatan bis kira-kira 22 m/detik, dan itu setara dengan 79 km/jam. Ketika saya melihat dashboard kecepatan bis, jarumnya menunjukan di angka 80an. Angka nya tidak berbeda jauh dengan hitungan manual.
Saya cukup puas dengan fantasi hitung saya. Kalo hitungan meleset terlalu jauh dengan jarum dashboard maka saya suka menghitung ulang pada kesempatan berikutnya. Begitulah saya, daripada hanya berdiri melamun, berfantasi asah otak jadi pilihan dalam mengisi perjalanan.
Ternyata matematika itu menyenangkan. Bukan?
Comments
Post a Comment