Amar Ma'ruf
Ketidaksempurnaan dalam berwudhu, dalam shalat, dalam membaca quran terjadi karena ketiganya keluar dari jalur standar, keluar dari pakem yang diajarkan dan dicontohkan.
Ketika kacamata saya melihat itu terjadi maka cenderung saya membiarkan, karena siapa tahu saya yang salah bersandar pada suatu ajaran. Maunya mengingatkan, tapi belum tentu pas, karena bisa jadi yang dia fahami dan ketahui lebih benar. Kalau pemahaman saya dipaksakan bisa jadi akan ada debat berkepanjangan.
Tapi sore tadi lain ceritanya. Saya shalat ashar berjamaah di shaf ke 12, masbuk di rakaat kedua bersama puluhan lainnya di shaf yg sama. Saya terlambat karena sebelumnya ada kegiatan edukasi Pajak Berisyarat kepada Teman Tuli.
Tertib kami mengikuti hingga imam salam. Kami berdiri lagi kecuali seorang di samping kiri saya yang ikut salam saat imam salam. Masing-masing kami menyempurnakan rakaat keempat hingga selesei, sementara dia "terlihat" sedang berdzikir.
Setelah salam, tanpa ragu saya jabat tangan orang di sebelah kiri saya tadi sambil berbisik ke telinganya "Mas, mas tadi kurang satu rakaat lho!" Dia ngga kaget. Aneh juga. Tapi dengan suara pelan dia lalu berucap "Iya sih, kayaknya gitu. Makasih ya. Kalo gitu saya shalat lagi aja". Lalu dia berdiri, mengasingkan diri ke tempat lain.
Saya tidak sempat untuk menjelaskan kepada nya bahwa dia sebenarnya hanya cukup menambah satu rakaat dan diakhiri sujud sahwi, daripada mengulang shalat empat rakaat.
Menegakan kebenaran saat diyakini memang benar, harus kita lakukan, dan itu saya lakukan. Namun saat ragu bahwa itu tidak benar, pilihan ada pada kita. Dan saya memilih untuk tidak meluruskan yang menurut saya bengkok karena saya belum tentu benar.
Anda bagaimana?
Comments
Post a Comment