Deja vu
Ramadhan datang lagi. Saya jadi inget tahun lalu saat repatriasi ke jakarta, setelah berdinas hampir 14 tahun di Bali dan Jawa Barat. Senin tgl 12 April 2021 adalah H-1 ramadhan 1442 H, adalah hari pertama bertugas di Dit P2Humas sebagai fungsional penyuluh pajak. Besok nya sudah puasa.
Kos di bilangan kebalen seharga 1000 K adalah pilihan singgah. Kebalen yang merupakan kawasan kampung di perkotaan semestinya bukan tempat yang sulit mencari masjid. Dan langkah kaki saya blusukan kesana kemari membuktikan kebenaran dugaan.
Namun saat itu covid 19 lagi lucu-lucunya, dan himbauan pemerintah membuat saya ragu untuk berkunjung ke rumah Allah. Tapi kangen berjamaah membawa saya ke masjid yang paling dekat. Ya rabbi, penuh sesak, barisan rapat, sirkulasi udara hampir tidak bisa dirasakan plus distorsi suara anak² yang makin membuat sumpek.
Hanya shalat isya yang saya tunaikan, selanjutnya balik kanan dan ngamar di kos dan lanjut tarawih sendiri. Daripada daripada, bukan?
Malam ini H-1 ramadhan 1443 H, alhamdulillah bisa tarawih, tidak lagi di kebalen, tapi di Masjid Al Ikhwan yang hanya tujuh menit jalan kaki dari rumah dinas. Masjid penuh, namun jamaah tertib teratur dalam barisan yang rapat dan rapih, ditambah lagi dengan kesigapan para marbot yang menghimbau jamaah untuk menyesuaikan posisi.
Sejumlah kipas angin yang terus berputar menghembuskan nafasnya, ditambah arsitektur masjid yang terbuka dan tanpa keributan suara anak² membuat shalat menjadi nyaman. Bacaan al hafidz imam tarawih yang merdu, dari alif lam mim di rakaat pertama hingga separuh juz 1 di rakaat kesepuluh menambah nikmat malam ramadhan.
Terima kasih ya Allah, Engkau telah angkat virus covid mahluk mikroskopis-MU dari masjid-masjid kami.
Marhaban ya syahru ramadhan ðŸ˜
Comments
Post a Comment