Asymmetric Information
"Mas toha," begitu gaya sok akrab saya dg sekuriti Sumarecon Mall Serpong (SMS) yg sebelumnya ga pernah saya kenal "musholla dimana ya?".
Kemarin siang istri saya ngajak nengok sepetak tanah yang kami beli di daerah cisauk pada akhir tahun 2014. Udah hampir empat tahun ga disambangin. Khawatir juga kalo "hilang" aset itu gegara patok bergeser misalnya.
Alhamdulillah ternyata lahan 120m² itu aman, dan terlihat baru digemburkan oleh Pak Juher. Dia adalah petani lokal yg memanfaatkan seluruh "tanah nganggur" di daerah situ, untuk ditanami palawija, tanpa perintah dari pemilik² nya, yg entah ada dimana mereka.
Long story short, kami pulang, dg tuntunan mbah google tentunya, karena saya pengen dapat jalan terbaik pilihan simbah, karena sesungguhnya sisi barat Jakarta ga saya kuasai. Pilih satu dari tiga rute yang ditawarkan, dan kami bergerak.
Di separuh awal perjalanan pulang, saya baru sadar kalo itu bukan jalan yang diharapkan. Tapi ga menyesal karena kawasan asri dan nyaman dengan jalan boulevard yg kami lalui membuat decak kagum. Laju mobil diperlambat, semata-mata karena ingin menikmati harmoni yang disuguhkan oleh kawasan modern itu.
Langit senja memancing sinyal lapar penumpang di sebelah saya "Yah, dinner di mana kita? Cari yg ada musholla nya!" pinta istri. Sambil roda empat ini menggelinding, mata kami tertuju ke kemewahan cahaya lampu. Mampirlah kami di situ, di SMS.
"Musholla laki² di basement, yang perempuan di lt 1", kata pak toha menjawab pertanyaan saya.
"Bun, ga mungkin deh ada pemisahan kek bgitu. Ya udah kita ke dalam aja, nanti tanya² yang lain", kata saya ke istri sambil meninggalkan pak toha.
Di dalam ketemu SPG, istri bertanya dan diarahkan ke basement. Di basement jelang keluar area gedung, saya tanya sekuriti, namun diarahkan ke lt 1 karena musholla dalam mall hanya naik satu lantai sementara musholla basement lebih jauh.
Pfuiihhhh, ... lelah kami terombang-ambing.
Bertanya kami di lt 1, ke mba pelayan cemilan cepat saji yg lagi nglamun nungguin calon pelanggan. "Oh itu pak, lurus aja terus turun dan belok kiri," jawabnya cepat, ...dan benar.
Saya jadi teringat keluhan satu dua audiens saat mereka curhat di acara edukasi perpajakan yang saya isi. Mereka merasa "dipingpong" ketika meminta informasi ke KPP, baik saat datang ke kantor maupun melalui telpon atau media lain.
Bagaimana kita mendudukan dua kasus di atas? Bagaimana seharusnya sistem bekerja supaya informasi yang dibutuhkan tersedia dan mudah diperoleh?
Dari sisi pencari informasi, ada 1001 jawaban buat yang melek gadget yang biasa berselancar di dunia maya, karena informasi awal atau bahkan detil bisa tersedia, tinggal lagi ada kemauan blusukan di rimba informasi atau tidak. Sementara itu, buat "non gadgeters", mencari informasi bisa lebih melelahkan. Tidak perlu dijelaskan betapa sulitnya mereka.
Dari sisi penyedia informasi, seharusnya mereka memposisikan diri sebagai the most wanted party kalo mereka pengen dikenal. Publikasikan aja apapun profil mereka buat para peselancar maya. Perlihatkan diri mereka melalui billboard / running text atau papan petunjuk atau papan nama buat para non pengguna internet.
Asymmetric information jelas merupakan masalah dan bisa jadi high cost of economy, ... tapi ada kok jalan keluar nya
Comments
Post a Comment