Lathi

Saat ini saya tergabung dalam suatu komunitas musik, walaupun itu hanya di sebuah whatsapp group Taxic Chapter Jabar 1. TAXIC adalah wadah untuk menampung aspirasi warga DJP pecinta seni, utamanya penikmat musik, pemain musik, dan penghobi tarik suara. Kenapa saya nyemplung di situ?

Sebenarnya aura saya ga nyambung-nyambung amat di wadah itu. Saya ga bisa main alat musik apapun. Saat ini saya juga bukanlah penikmat musik. Konon kategori penikmat musik adalah mereka yang tiap hari pasti dengerin lagu.

Tiga sampai empat dekade lalu sih saya emang penikmat musik. Radio favorit yang mengudarakan lagu-lagu lawas saya setel setiap hari. Kalo ngga denger radio ya nyetel kaset The Beatles. Saya beatles mania. Koleksi kaset nya (saya beli sejak duduk di bangku SMP) cukup banyak untuk diputar bergantian setiap hari, ghak mboseni. Dinding kamar tidur penuh dengan poster The Beatles. Waktu bersekolah di SMAN 28 Pasar Minggu, rambut saya bahkan di potong poni dan saya ke sekolah pake sepatu boot. Ngerik kali.

Kalo ga bisa main musik dan bukan penikmat musik, lalu kenapa saya ikutan di grup TAXIC? Nah ada satu pintu di sana: olah vokal. Saya suka nyanyi dan suara saya boleh diadu lah (yang kata temen-temen sih enak didenger karena cukup berkarakter). Itu modalnya ikutan komunitas.

Mostly saya hanya silent rider di grup itu, ngintip obrolan anggota grup dan menikmati karya-karya seni yang sering di share di grup itu. tapi sesekali ikut nimbrung juga, minimal kasih jempol. Separuh member memang produktif, terutama di era pandemi covid 19 ini. Kebanyakan mereka meng-cover lagu, tapi ada juga yang jamming. Menurut saya, karya-karya mereka yang dihidangkan di youtube itu punya kualitas rekaman yang cukup baik.

Suatu hari plung ada anggota grup yang posting cover lagu. Liriknya bahasa inggris tapi kok samar-samar endingnya terdengar seperti orang nyinden. Lagunya asik apalagi suara penyanyinya bening bersih. Di channel youtube itu terlihat kalo judulnya Lathi.

Saya penasaran Lathi itu apa, kata itu ga ada dalam perbendaharaan kata saya. Penasaran itu diselesaikan dengan baik oleh Mbah Google. Saya baru tahu kalo lagu itu udah viral, maklumlah bukan penikmat musik. Lebih kaget lagi karena lagu itu adalah karya anak bangsa sendiri Weird Genius dengan vocalis Sara Fajira, yang dirilis di awal tahun 2020 ini.

Keren diramunya, di awali dengan bahasa inggris tapi diakhiri dengan bahasa jawa. Liriknya seperti ini kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi. Artinya kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya). Mantap, sarat pesan.

Lathi. Di penghujung syair judul lagu itu baru muncul, hanya sekali. Apik tenan.

Comments

Popular Posts